Kemarin baru saja mengikuti seminar “Sosialisasi Internet Monitoring” di Wisma Joglo Yogyakarta. Pada awalnya saya nggak tahu seminarnya ini membahas tentang apa, tetapi karena ajakan yang mendadak dari orang-orang tempat saya magang untuk meliput seminar ini maka saya dan teman-teman akhirnya ikut juga.

Entah seminar ini bersifat tertutup atau terbuka nggak jelas, tetapi berdasarkan surfing rupanya seminarnya ada 2, yang satu bertempat di Auditorium Kampus 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (dengan judul seminar ‘Role of asia in Global Software Engineering in the Third World’), dan yang satu di Wisma Joglo Yogyakarta sendiri, dan kemungkinan seminar yang saya hadari bersifat tertutup.

Perasaan awal masuk tempat seminar seakan menjadi “tamu tak di undang”, ditengah tatapan curiga mbak-mbak koordinator acara (mungkin curiga “kynya ada orang nyasar”), belum lagi melihat dari para peserta yang rata-rata udah “bapak-bapak” plus pakaian mereka yang bertuliskan nama-nama ISP terkenal di Jogja, pengelola web hosting, beberapa media massa yang berhubungan dgn IT, dan juga perwakilan komunitas pengguna internet Jogja, belum lagi gaya bicara mereka ataupun pembicara seminar yang menggunakan istilah-istilah ”expert” membuat saya harus memutar otak untuk mengulang kembali kuliah saya mengenai Jaringan Komputer, Komunikasi Data, dll.

Setelah beberapa waktu baru saya donk orang2 ini ngomong apaan (maklum otak lagi lelet), ternyata sosialisasi tentang penggunaan Internet Monitoring + hal-hal yang terkait dengan ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team of Internet Infrastructure) itu sendiri.
Berdasarkan apa yang di bicarakan rupanya telah dimulai usaha dari pemerintah untuk melakukan pengawasan terhadap trafik Internet di Indonesia dan beberapa kota besar di Indonesia telah di uji untuk penggunaan alat tersebut (wah bisa gawat nich :) ).

Saya hanya mengkomentari berdasarkan apa yang saya dengar dari seminar tersebut (sebenarnya saya udah mau nanya ama pembicaranya, tapi malu entar di dibilang “ada orang nyasar nanya-nanya nggak jelas”, lagian saya tidak bisa menggunakan istilah-istilah “expert” seperti mereka :) ) .

Berdasarkan apa yang saya pahami projek tersebut kemungkinan besar sangat efektif untuk melakukan pemblokan terhadap situs-situs yang mengandung content porno karena kerjasama mereka langsung kepada ISP yang memegang langsung proxy user untuk melakukan filtering. Yeah, dibandingkan pengeluaran sofware nggak jelas oleh pemerintah akhir-akhir ini untuk memblok content porno dengan biaya yang “sangat” besar, cara ini jelas-jelas lebih efektif.

Selain membahas pencatatan log pengguna, filtering, dan pengawasan traffik, seminar ini juga membahas serangan DOS/DDOS terhadap ISP, deface, penyusupan, pokoknya yang berbau “underground”. Dari seminar ini saya jadi tahu rupanya pihak kepolisian itu sering datang ke ISP tertentu untuk melakukan pengecekan nomor IP (jadi ngeri nich) untuk melakukan pengawasan terhadap cyber crime, bahkan katanya bisa sampai menyita server si provider.

Ngomong-ngomong dari apa yang saya simpulkan dari cara monitoring internet tersebut, masih terdapat celah-celah yang bisa digunakan untuk meloloskan diri dari monitoring. Dan berdasarkan pengalaman saya selama ini di dunia “bawah tanah” (meskipun hanya dari sisi “pendengar” dan bertepuk tangan jika ada yang melakukan hal yang “wah” kemudian berharap agar bisa seperti itu tapi nggak pernah bisa :( ), cara monitoring seperti itu dari segi security-nya masih “rawan” untuk ditipu.

Tapi satu pertanyaan besar muncul setelah mengikuti seminar itu - “apakah monitoring tersebut tidak melanggar hak privasi seseorang?”

Berita terkait : ini dan ini

Sedikit tambahan dari blog tetangga : ini

bintang jatuhTadi baru saja melihat bintang jatuh, hal yang sangat jarang ku saksikan di kota ini, bahkan mungkin bintang jatuh pertama yang kulihat di kota ini, entah mengapa secara spontan dalam hati to make a wish…., dan secara spontan pula di dalam otak tiba-tiba mengatakan “aku ingin hidup…”
Keinginan hanya terputus sampai di situ, ingin hidup apa? pertanyaan yang membingungkan.
Sekarang aku memang ‘hidup’, tapi apakah ini hidup yang ku inginkan? Hidup dengan jalur lurus yang datar ?
Kita mungkin bisa membohongi keluarga, teman, bahkan dunia, tapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri. Ku sadari ternyata aku belum ‘hidup’.
Duduk di sini dengan kepala penuh pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak akan pernah terjawab. Inilah hidupku sekarang, terus bertanya-tanya seakan baru saja terbangun dari tidur yang panjang.

Malam ini, malam saat kusaksikan bintang jatuh…
Saat yang katanya keinginan-keinginan hati kita akan terkabul…
Aku hanya ingin menginginkan sesuatu yang pasti semua orang inginkan…
Aku ingin bahagia…
Dan untuk yang jauh di sana…
Jika bintang jatuh dapat membuat ku bahagia…
Maukah kamu menjadi bintang jatuhku?

Next Page »